Saya merasa hidup seperti di ujung tanduk. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh salah satu penulis, bahwa ada beberapa orang yang tidak diberikan kesempatan untuk berkembang sebagai supir, tapi sebagai penumpang. Penumpang hanya bisa membayar dan duduk manis di kursi belakang sampai ke tujuan, sedangkan supir harus menavigasikan kendaraan, memastikan penumpang nyaman, memperhatikan kondisi jalanan dan lalu lintas. Tentu saja sang supir akan lebih sadar dan memaksimalkan penggunaan daya pikir dan tenaganya untuk menavigasi sampai ke tujuan dan mungkin memastikan juga agar tepat waktu. Saya mungkin lebih tepat dikatakan sebagai "supir cadangan" yang di awal perjalanan harus tidur karena sudah kelelahan setelah melakukan shift sebelumnya, kemudian harus menggantikan supir sebelumnya ke titik akhir tujuan. Saya tentu masih merasakan kantuk karena tidur di bagian belakang bis bukanlah tempat ideal untuk beristirahat. Saya membayangkan bis dengan posisi kursi ekonomi umumnya, di ...