Saya merasa hidup seperti di ujung tanduk. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh salah satu penulis, bahwa ada beberapa orang yang tidak diberikan kesempatan untuk berkembang sebagai supir, tapi sebagai penumpang. Penumpang hanya bisa membayar dan duduk manis di kursi belakang sampai ke tujuan, sedangkan supir harus menavigasikan kendaraan, memastikan penumpang nyaman, memperhatikan kondisi jalanan dan lalu lintas. Tentu saja sang supir akan lebih sadar dan memaksimalkan penggunaan daya pikir dan tenaganya untuk menavigasi sampai ke tujuan dan mungkin memastikan juga agar tepat waktu.
Saya mungkin lebih tepat dikatakan sebagai "supir cadangan" yang di awal perjalanan harus tidur karena sudah kelelahan setelah melakukan shift sebelumnya, kemudian harus menggantikan supir sebelumnya ke titik akhir tujuan. Saya tentu masih merasakan kantuk karena tidur di bagian belakang bis bukanlah tempat ideal untuk beristirahat. Saya membayangkan bis dengan posisi kursi ekonomi umumnya, di mana terdapat celah kecil dekat dengan toilet di belakang bis, itu biasanya menjadi spot tidur para supir cadangan ini. Tentu saja sangat sulit untuk menavigasi kendaraan dengan kondisi yang tidak fit, antara ketepatan arah laju kendaraan atau keterlambatan waktu sudah pasti akan dipertaruhkan. Belum lagi, jika ada kendala kendaraan, itu akan semakin menghambat penumpang sampai ke tujuan dengan tepat waktu.
Begitulah saya, saya sudah merasa "telat" sejak dari kecil. Saya telat menyadari bahwa saya memang harus tinggal berpisah dengan orang tua demi kebaikan diri saya sendiri baru mulai semenjak akhir SMA. Saya juga telat menyadari bahwa saya memang seharusnya lulus TK di usia 7 tahun, karena saya pikir saya sudah lama sekali di TK yang sebenarnya hanya ikut nenek saya mengajar, juga karena di rumah tidak ada orang yang bisa mengawasi. Saya juga merasa agak telat saat SD, di saat teman-teman saya mayoritas setahun lebih muda dari saya, bahkan ada satu kawan saya dari SD hingga SMP, dia dua tahun lebih muda. Saya memahami itu dengan alasan orang tua saya "kamu baru bisa membaca lancar di usia itu, bisa baca koran, baru matang dan diterima di sekolah.".
Saya merasa tertinggal masalah pergaulan, dari masa sekolah di SD, saya cukup bingung menggolongkan diri saya dalam kelompok apa, sebagai pribadi yang mana. Ketika saya bergabung dengan teman-teman yang "pintar", saya sedikit banyak memiliki ketidakcocokan dan semakin didorong tidak relate secara hubungan yang lebih personal, misalkan mereka saling mengenal orang tua masing-masing, sedangkan saya saja tiap ambil rapot selalu membujuk salah satu baik nenek atau kakek meluangkan, karena sama-sama sibuknya dan sulit menentukan waktunya yg pas. Kalaupun ke anak-anak yang "nakal", saya juga hanya dianggap kalau ada perlu saja, selain itu ya jadi bahan ceng-cengan saja. Merasa kosong sejak kecil, rasanya memang berat sekali, tapi saya saat itu dengan kepolosan dan ego yang cukup besar tentu akan dengan mentah menolak kondisi itu, sampai benar-benar menyadarinya nanti.
SMP adalah posisi saya pada puncak ego, di mana mungkin ini adalah kondisi saya akan mulai "memisahkan diri" dengan realitas karena terlalu kebesaran ego. Saya cukup aktif di media sosial, cukup rutin datang ke warnet untuk memperoleh pengakuan sosial yang semu itu. Di sekolah, tentu saya bukan siapa-siapa. Apalagi, di tengah ego yang memuncak itu, ada pengalaman pembulian yang tidak nyaman, makin menjadi lah itu kekosongan yang ada sejak SD. Tiap main harus lari ke kelas lain, karena teman baiknya cuma ada di kelas lain, sempat ada masa kekosongan karena tidak punya teman sama sekali. Sekolah hanya sekadar memenuhi kewajiban daripada dapat kritik di rumah. Sakit berangkat tidak masalah, nanti juga diantar guru ke rumah kalo tidak kuat. Sebenarnya ini juga bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan, tapi apalah kalo ego sudah kebesaran, realitas diabaikan, seolah buntu dan tidak ada jalan rasanya.
Masuklah SMA, konsekuensi performa di SMP yang tidak maksimal semakin mendorong saya ke jurang lebih dalam. Saya terpaksa menjalani sekolah yang tidak pernah diharapkan sebelumnya. Saya berusaha mencari nikmati dari "blackhole" yang secara sadar saya bentuk dan masuki sendiri (agak kurang masuk kalo ditulis bahasa Indonesia). Saya berusaha menikmati ilmu sosial yang memang menjadi masalah saya sekaligus jadi bidang yang tidak terlalu saya minati sejak SMP. Berharap memiliki kondisi sosial baik, dengan ego yang tinggi meskipun mulai turun perlahan, tetap saja saja tidak kemana-mana. Lagipula, orang-orang dari SD, SMP, ke SMA ya itu-itu saja, jadi saya tentu dikenali betul bahwa saya adalah siswa biasa-biasa saja dan tidak ada yang menarik dari saya. Saya juga tidak bisa "menarik" dalam interaksi sosial, payah sudah belajar sosial tapi seperti orang yang tidak kenal keterampilan sosial.
Itu sampai hari ini terbawa di dunia kampus. Ketika memperoleh kesempatan untuk lebih dikenali, seketika saya gagap dan menghindar begitu saja. Seolah bentuk-bentuk pengakuan, sekadar untuk lebih dikenal dan diketahui orang itu bukan jadi tempat saya. Saya merasa bahwa saya tempatnya selalu di belakang layar. Saya merasa tidak ada kendali atas kehidupan saya sendiri, di mana saya sudah melalui banyak proses dan berusaha menaklukan hal-hal yang bagi saya seperi mustahil. Saya akhirnya bisa masuk kampus terbaik di Indonesia, juga salah satunya. Tapi setelah saya cerna kembali, hal itu tidak lebih dari sekadar keberuntungan saja.
Banyak hal-hal yang saya rasa saya tidak kompeten di bidang itu dan itu dibuktikan secara data, tidak hanya dugaan atau perasaan semata. Tapi, dengan izin Allah, saya bisa-bisa saja melewati hal-hal itu, apalagi selain keberuntungan yang bisa menjelaskan itu. Memang, paradigma pemikiran ilmiah akan menyangkal dengan adanya variabel yang saya mungkin belum perhitungkan. Tapi, saya juga memiliki contoh, misal ketika saya masuk kampus, nilai saya di atas kertas sudah pasti tidak mungkin lolos di kampus saat ini, tapi tanpa tahu proses seleksi bekerja, ya diterima saja begitu. Belum lagi dalam proses perkuliahannya, banyak materi yang saya sangat tidak paham bahkan dengan belajar lebih panjang, diskusi, sampai bertukar catatan, tapi ya lulus-lulus saja, tidak ada mengulang meskipun sempat tidak bisa ambil mata kuliah full karena ipk yang pas-pasan.
Mungkin keberuntungan itu sudah habis, Allah mungkin saja, setidaknya menurut saya, sudah lelah memberikan keberuntungan-keberuntungan itu yang mungkin hanya menaikkan ego saya tanpa benar-benar memberikan pembelajaran berharga bagi saya. Saya merasa tidak bisa bertindak apa-apa semenjak awal 2025 diterpa banyak ujian, termasuk ujian penulisan karya akhir kuliah saya yang mandek secara progres hingga Juli 2025 ini. Saya merasa bahwa saya memang malas saja, sudah sulit untuk diajak bekerja keras karena terlalu terpaku dengan algoritma media sosial, yang itu membuat saya jadi lebih mudah letih ketiga mengurai satu per satu artikel kajian riset. Saya merasa apa yang saya tuangkan dalam tulisan proposal saya juga mewakili isi kepala saya yang carut marut, tidak terstruktur, tidak tahu arah. Saya makin sadar bahwa saya sendiri tidak punya arah, bagaimana menyelesaikan riset yang butuh tujuan jelas dan arah kalau saya sendiri saja tidak punya tujuan dan arah.
Saya juga merasa kondisi fisik saya semakin menunjukkan bahwa keberuntungan saya sudah benar-benar habis. Secara sosial, saya mulai sulit untuk berinteraksi, seperti saya mudah bengong dan kehilangan konteks obrolan padahal itu sedang dibicarakan langsung saat itu, seperti tuli tapi yang tuli adaah otak bukan telinga. Saya juga sering kehilangan daya pikir saat dibutuhkan, bimbingan terakhir membuktikan saya benar-benar kehilangan konteks penelitian saya sendiri dan hanya mengiyakan komentar dosen tanpa berpikir lebih lanjut, bahkan yang sudah disiapkan hilang semuanya. Saya juga sering merasa bengong dan memiliki kondisi emosional yang sering berubah, terutama ke arah sedih. Kapabilitas saya dalam mengetik juga jadi cerminan bagaimana semakin lemahnya kemampuan komunikasi saya, saya seringkali menulis typo secara sengaja, bahkan itu saya lihat sendiri padahal di otak sudah mengkonsep A, tapi di tangan ditulis secara sengaja ke tulisan yang B bakhkan Z.
Belum lagi ujian dari kondisi keluarga. Beberapa waktu mengalami berita-berita yang tidak menyenangkan di keluarga. Saya juga yang saat ini mau tidak mau mengemban beban sebagai "cadangan" peran kepala keluarga, meskipun gak menafkahi juga, tapi cukup punya tekanan besar dalam melihat kondisi realitas keluarga saya, bagaimana saya bisa membentuk dan menjaga relasi baik karena saya dari kecil memang jarang interaksi dengan orang tua kandung dan adik-adik saya. Hal ini benar-benar menguras mental dan pikiran saya, meskipun saya di sini masih nyantai-nyantai saja, setidaknya menurut saya dari ukuran orang-orang yang merasa ini bukan bentuk kerja, tapi kemalasan saya yang dikemas dengan overthinking dan mental block, istilah yang tidak dipahami oleh kalangan milenial ke bawah, mereka hanya tahu itu malas saja, dan mungkin saja memang saya malas, hanya saja mungkin saya atau orang lain tidak mau tersentil dengan kesan negatif dari kemalasan itu kemudian dibungkus dengan bentuk "mental block" atau kondisi mental yang tidak memungkinkan atau gampangnya "gak mood aja".
Mungkin benar sudah habis keberuntungan itu. Di kondisi kritis terakhir saat saya sempat sakit dan lemas, saya hanya berharap untuk bisa mengikuti bimbingan sekali saja, setidaknya saya mendapat kepastian. Tapi kepastian itu justru membuat saya meneruskan lagi ketidakpastian itu, jadi harapan terakhir saya adalah: temukan saya pada tahun berikutnya, semoga saya bisa menyelesaikan apa yang menjadi pilihan saya.
Komentar
Posting Komentar